SELAMAT DATANG DI AWNO BANGIL
17 alasan ulama Islam mengkafirkan kaum Syi’ah
SEJUMLAH tujuh belas doktrin Syi’ah yang selalu mereka sembunyikan dari
kaum muslimin sebagai bagian dari pengamalan doktrin taqiyah
(menyembunyikan Syi’ahnya). Ketujuh belas doktrin ini terdapat dalam
kitab suci Syi’ah:
Dunia dengan seluruh isinya adalah milik
para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang
dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki (Ushulul Kaafi,
hal.259, Al-Kulaini, cet. India).
Jelas Doktrin semacam ini
bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128, “Sesungguhnya
bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia
kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan
para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.
Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama
dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang
bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi
hal. 138).
Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah
yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin
semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah
pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian
aqidahnya.
Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah
dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah
(Ushulul Kaafi, hal. 83).
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan
neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya,
mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara
rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal.
84).
Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).
Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri
yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui
hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi,
hal. 158).
Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi
dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada
mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui
(Ushulul Kaafi, hal. 193).
Allah itu bersifat bada’ yaitu baru
mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah
telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi,
hal. 40).
Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah),
Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh.
Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat
ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah
telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin
Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).
Para
imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah.
Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah
lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam
Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah
(Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal.
165).
Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).
Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin
Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi,
hal. 109)
Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi
dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat
Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47,
menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba
aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab,
hal. 180).
Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada
Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660
ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).
Menyatakan bahwa Abu Bakar,
Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul
Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah
musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah
sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul
Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).
Menghalalkan
nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin
mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir
Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).
Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi
kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada
temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika
engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III,
hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).
Rasulullah
dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi
sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan
Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua
orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad
Baqir al-Majlisi).
Ketujuhbelas doktrin Syi’ah di atas, apakah
bisa dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah
Saw. dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup
sejak zaman Tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa
Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad,
barangsiapa yang tidak MENGKAFIRKAN aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk
Kafir.
Semua kitab tersebut diatas adalah kitab-kitab induk
atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab
hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa’i, Tirmidzi, Abu
Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya
Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum
Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah
dusta dan harus ditolak tegas !!!.
Sumber: Risalah Mujahidin, edisi 9, th 1 Jumadil Ula 1428 / Juni 2007
Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17123-17-alasan-ulama-islam-mengkafirkan-kaum-syiah.html#ixzz1iDPDVifQ
Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!
0 Comments and 0 Reactions
01 Jan
IJABI berdusta katakan syi’ah haramkan nikah mut’ah
JAKARTA (Arrahmah.com) – Organisasi yang memayungi sekte sesat di
Indonesia Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), melakukan taqiyah
dengan membantah bahwa jamaahnya diperbolehkan untuk tidak salat Jumat
dan nikah mut’ah (kawin kontrak).
“Kami di IJABI nikah mut’ah
diharamkan,” tega Ketua dewan Syura IJABI Jalaludin Rakhmat yang
merupakan gembong syiah di Indonesia saat jumpa pers di Kantor Pusat
IJABI di Jakarta Selatan, Sabtu (31/12).
Lebih dari, itu Jalal
menegaskan, banyak pengurus IJABI yang menjadi khatib salat Jumat di
masjid-masjid besar. Sehingga fakta tersebut dengan jelas membatalkan
anggapan bahwa Syiah dibolehkan tidak melaksanakan salat Jumat.
Soal nikah mut’ah, Jalal menilai pada hakikatnya semua orang melakukan
nikah mut’ah namun dalam konteks yang berbeda. “Kita semuanya nikah
mut’ah, segera setelah akad nikah, taqliq talak itu nikah mut’ah,”
jelasnya.
Karena itu, Jalal meminta masyarakat yang belum
memahami soal Syiah untuk berdialog dan tidak menggunakan cara kekerasan
untuk memaksakan pendapat.
Di negeri Iran hingga kini tidak
pernah dilaksanakan shalat Jum’at dimasjid-masjid kaum syi’ah. Karena
mereka beranggapan sholat jum’at harus dilakukan bersama Imam Mahdi
mereka yang belum muncul, sholat jum’at pernah dilaksanakan ketika
Khomeini dianggap sebagai wilayatul faqih yang mewakilkan urusan umat
syi’ah dimasa keghaiban Imam Mahdi versi Syi’ah.
Entah, apa
yang membuat Jalal tidak menjalankan ajarannya tersebut. Bisa jadi ini
adalah taqiyah (kebohongan dalam ajaran Syi’ah) yang merupakan aqidah
syi’ah yang dilakukan Jalal untuk menyelamatkan diri. Dalam sebuah
riwayat versi syiah mengatas namakan Ahlul bait Ja’far As-Shadiq
mengatakan:
“Taqiyah adalah 9 dari 10 bagian agama.” Ja’far
juga mengatakan: “Tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah.” Begitu
juga riwayat dari Abu Ja’far, yang mengatakan: “Taqiyyah adalah agamaku
dan agama kakek-kakekku.” (Riwayat-riwayat ini tercantum dalam kitab
Al-Kafi, bab. Taqiyyah, jilid. 2, hal. 217).
Ibnu Babawaih
Al-Qummi, salah seorang ulama besar Syi’ah, mengatakan: “kami meyakini
bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti
meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hal. 114).
Ini nampaknya
yang sedang dimainkan Jalaludin rahmat untuk membela sektenya, Ia
bertaqiyyah(berbohong) bahwa mereka tidak pula melaksanakan nikah
mut’ah. Padahal dalam pernyataannya secara implisit, Ia meminta
masyarakat memahami bahwa mut’ah itu dilakukan bukan hanya oleh syi’ah.
Perhatikan ucapannya ini Soal nikah mut’ah, “Kita semuanya nikah mut’ah,
segera setelah akad nikah, taqliq talak itu nikah mut’ah,” jelasnya.
Itulah kedustaan yang sering dilakukan sekte sesat syi’ah, mereka
menolak dikatakan mewajibkan mut’ah, tetapi tak begitu lama lisannya
sendiri yang menegaskan pembolehan nikah tersebut.
Nikah Mut’ah
tidak mungkin ditinggalkan pengikut syi’ah, karena menurut Syi’ah nikah
mut’ah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah yang mampu mengangkat
derajat mereka.
Syi’ah meyakini mut’ah sebagai salah satu dasar
pokok (ushul) agama, dan orang yang mengingkarinya dianggap sebagai
orang yang ingkar terhadap agama.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu
Al-Faqih, 3/366 dan Tafsir Minhaj Ash-Shadiqin, 2/495).
Syi’ah
juga menganggap mut’ah sebagai salah satu keutamaan agama dan dapat
meredam murka Tuhan.(Sumber: Tafsir Minhaj Ash-Shadiqin, karya
Al-Kasyani, 2/493).
Menurut Syi’ah seorang wanita yang dimut’ah akan diampuni dosanya.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366).
Syi’ah menganggap mut’ah sebagai salah satu sebab terbesar dan utama
seseorang masuk ke dalam surga, bahkan dapat mengangkat derajat mereka
hingga mereka mampu menyamai kedudukan para nabi di surga.(Sumber: Kitab
Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366).
Wallahu ‘alam bishshowab.
(Bilal/arrahmah)
Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17124-ijabi-berdusta-katakan-syiah-haramkan-nikah-mutah.html#ixzz1iCvAiH4S
Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!
0 Comments and 0 Reactions
01 Jan
MUI Jatim : Waspadai perkembangan syi`ah
JAKARTA (Arrahmah.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur
(Jatim) meminta masyarakat mewaspadai aliran Syiah agar tak berkembang
di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Menurut Ketua MUI Jawa
Timur KH Abdussomad Bukhori, kelompok Syiah boleh diakui eksistensinya
tapi jangan diberikan fasilitas untuk berkembang.
“Aliran Syiah
jangan berkembang dan merembet ke tempat lain. Indonesia itu isinya
orang Sunni walaupun NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad semuanya sunni. Syiah
itu kelompok kecil harus mengerti-lah,” kata Abdussomad di Kompleks
Mapolda Jatim, Surabaya, Jumat (30/12) seperti dilansir Okezone.
Kendati demikian, dia mengaku tidak sepakat dengan aksi kekerasan yang
terjadi di Pesantren Syiah, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben Kabupaten
Sampang, kemarin. Abdussomad juga berharap tidak ada pihak-pihak yang
memancing di air keruh terkait insiden tersebut.
“Mengembangkan
Syiah di Madura tentunya sangat berat. Kita kekerasan tidak setuju tapi
jangan ada yang mancing-mancing agar terjadi kekerasan itu,” katanya.
MUI sendiri, tegasnya, sudah melakukan beberapa langkah-langkah terkait
kasus di Sampang itu. Meski belum sampai pada tahap fatwa haram terkait
keberadaan Syiah di Indonesia.
Sebab, jika kekuatan Syiah
berkembang setara dengan kekuatan Sunni di Indonesia, dia khawatir
sering terlibat kerusuhan mengingat kedua aliran ini memiliki kekuatan
yang sepadan, mirip dengan kondisi di Irak dan Iran.
“Saya kira Jawa Timur ini adalah kondisi yang sangat pas. Akhirnya kondisinya menjadi kondusif,” katanya.
Tambah KH Abdussomad Bukhori , jika sebuah negara terdapat dua aliran
ini dengan kekuatan yang sama,maka negara tersebut tidak akan tentram.
“Sunni dan Syiah memang tidak bisa ketemu. Rukun Imannya saja berbeda,” jelas Abdussomad.
Dia menjelaskan, ada beberapa perbedaan yang menonjol di Syiah dengan
umat Islam pada umumnya. Azan saja berbeda di Syiah, lantunan Azan
diubah ada tambahan dua bait.
“Di Syiah salat saja berbeda,
yakni salat Zuhur dan Asar digabung jadi satu. Kemudian salat Maghrib
dan Isya. Perbedaan itulah yang tidak bisa ketemu dengan umat Islam pada
umumnya,” jelasnya.
Dia menambahkan nikah mut’ah (nikah kontrak) diperbolehkan di Syiah.
Abdussomad menjelaskan Syiah terbagi menjadi beberapa sekte. Ada sekte
beraliran ekstrem dan moderat. “Sekte yang lunak ini ajarannya tetap
bertentangan dengan umumnya umat Islam,” tukasnya.
Apa yang
membuat kekhawatiran ulama terhadap syiah jika hidup berdampingan dengan
sunni? Hal tersebut dikarenakan syi’ah mempunyai pandangan yang burk
terhadap ahlu sunnah atau sunni. Pandangan buruk tersebut terkait
keyakinan mereka bahwasanya kaum muslimin atau ahlus sunnah wal jama’ah
adalah kafir dan harus diperangi. Keyakinan tersebut dapat kita lihat
pada kitab-kitab pegangan kaum syiah.
Al-Majlisi, ulama Syi’ah
kenamaan, yang menyusun kitab Biharul Anwar –ensiklopedi hadits Syi’ah
yang terdiri dari 110 jilid–. Pada jilid ke 30, hal. 399, dia
menyatakan:
“Saya katakan: Dalil yang menunjukkan bahwa Abu
Bakar, Umar dan orang yang sejalan dengan mereka adalah kafir, juga
menunjukkan pahala melaknat dan memusuhi mereka, yang menunjukkan bid’ah
mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau
berjilid-jilid buku, apa yang telah kami nukilkan di atas sudah cukup
bagi orang yang diberi petunjuk Allah ke jalan yang lurus.”
Wallahu’alam bishshowab.
(Bilal/arrahmah)
Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17121-mui-jatim-waspadai-perkembangan-syiah.html#ixzz1iCuVPvYR
Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!
0 Comments and 0 Reactions
31 Des
IJABI berdusta katakan syi’ah haramkan nikah mut’ah
Dikirim pada 31 Desember 2011 di Ketahuilah!!!
0 Comments and 0 Reactions
28 Jul
Akhlak Kang Jalal
Dahulukan Akhlak di atas Fikih! itu kata Kang Jalal dalam bukunya,
tetapi apakah Kang Jalal sudah melakukannya sebelum mengajak orang lain?
Beberapa waktu yang lalu masyarakat berpeluang menyaksikan dialog
Nasional Sunni Syi�ah di layar TV. Menurut informasi yang beredar,
penganut sunni yang akan berdialog adalah Fauzan Anshari, sementara
penganut syi�ah yang akan memaparkan dalil-dalil syar�i kebenaran mazhab
syi�ah adalah Jalaluddin Rahmat. Semua menunggu hari dialog dengan
penuh penantian.
Lagi-lagi dari informasi yang beredar, Fauzan
berniat mengajak kang Jalal untuk bermubahalah, memohon azab Allah yang
disegerakan untuk mengetahui mana yang benar, antara mazhab Fauzan dan
mazhab kang Jalal. Tapi ternyata masyarakat belum dapat menyaksikan
langsung bukti kebenaran masing-masing mazhab, karena jika terjadi
mubahalah, selang beberapa waktu akan terjadi sebuah peristiwa buruk,
atau siksa, atau kematian dengan kecelakaan pada pihak yang mazhabnya
salah, akhirnya masyarakat akan mengerti dengan jelas. Seperti dikutip
oleh majalah Sabili, karena merasa ditipu dan dipermainkan, Fauzan
membatalkan keikutsertaannya dalam dialog, lalu panitia menghubungi
Nabhan Husein yang akhirnya menggantikan Fauzan.
Pada awal sesi
Kang Jalal (biasanya Jalaludin dipanggil dengan panggilan ini)
membacakan riwayat dari kitab tafsir Qurtubi tentang sebab turunnya
surat Al Ma�arij.
Sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan syi�ah,
ketika dihadapkan dengan nukilan dari literatur induk syi�ah yang
menerangkan hakekat mazhabnya, maka mereka segera menasehati lawan
dialognya agar tidak membaca nukilan sepotong-sepotong, hendaknya
membaca kitab seluruhnya supaya faham maksud perkataan itu dengan jelas,
serta jangan percaya pada antek musuh Islam yang menebar fitnah untuk
memecah belah ummat, mari kita lupakan perbedaan sepele yang ada antara
sunni dan syi�ah untuk menghadapi musuh utama kita, yaitu kaum yahudi.
Padahal nukilan tadi jelas jelas dari kitab induk yang menjadi pedoman
syi�ah. Akhirnya sunni yang kebetulan polos percaya saja dengan jawaban
kawan syi�ah tadi. Padahal belum tentu kawan syi�ah tadi sudah pernah
melihat langsung nukilan itu di kitab mereka. Karena kitab-kitab
literatur induk syi�ah yang memuat salah satu "pusaka" yang harus
diikuti oleh ummat Islam, yaitu ajaran ahlulbait, seperti kitab al kafi,
biharul anwar, al istibshar dan tahzibul ahkam tidak bisa ditemukan
dengan mudah, tidak seperti kitab-kitab hadits ahlussunah yang mudah
didapat. Jika memang kita harus mengikuti ahlulbait, mengapa kitab-kitab
yang memuat riwayat-riwayat ahlubait tidak diterjemahkan supaya
diketahui kaum muslimin secara luas?
Kang Jalal menukil dari
tafsir Qurtubi yang merupakan salah satu literatur induk tafsir
ahlussunnah wal jamaah, bukannya dari kitab syi�ah. Pemirsa pasti akan
menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat ahlussunah, karena berasal
dari salah satu kitab literatur tafsir ahlussunnah.
Menurut
riwayat yang dibaca oleh kang Jalal , bahwa sebab turunnya surat Al
Ma�arij yang ayat pertamanya berbunyi : sa�ala saa�ilun bi azaabin
waaqi�, artinya seorang telah meminta azab yang pasti akan menimpanya,
orang itu adalah Nu�man bin Harits Al Fihri, ketika mendengar bahwa Nabi
bersabda pada Ali bahwa " barang siapa aku(Nabi) menjadi walinya, maka
Ali harus menjadi walinya" langsung mengndarai ontanya. Ketika sampai di
Abtah (sebuah tempat di kota mekah), dia turun dan menambatkan ontanya,
lalu menghadap Nabi dan berkata : wahai Muhammad, kamu memerintahkan
kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk bersaksi tiada tuhan selain
Allah dan kamu adalah Rasulullah maka kami terima perintah itu, dan
kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah sholat lima
waktu dan ini juga telah kami terima. Dan kamu memerintahkan kami untuk
melaksanakan perintah Allah untuk berzakat dan kami pun tidak
menolaknya, juga dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah
Allah untuk berpuasa pada bulan ramadhan setiap tahun, kami terima itu.
Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk
berhaji dan kami terima, tapi kamu masih kurang dengan semua ini lalu
kamu lebihkan anak pamanmu di atas kami? Apakah hal ini dari Allah atau
dari dirimu sendiri? Lalu Nabi menjawab : demi Allah yang tiada tuhan
selain dia, perintah ini tidak datang kecuali dari Allah. Lalu Harits
berpaling sambil mengucapkan doa: "ya Allah jika memang ucapan Muhammad
adalah benar, turunkanlah hujan batu dari langit, atau datangkanlah
siksa yang pedih kepadaku". Demi Allah, dia tidak sampe ke ontanya
sampai dia dilempar oleh Allah dengan batu mengenai kepala dan menembus
duburnya dan dia pun mati. Lalu turunlah ayat pertama surat Al Ma�arij.
Dalam riwayat ini terdapat beberapa point penting yang akan ditangkap oleh permirsa yang menyaksikan siaran dialog:
•Yang dimaksud dengan orang kafir yang meminta azab adalah mereka yang kafir dengan pengangkatan Ali.
•Seolah pengangkatan Ali adalah resmi dari Allah, yang mana menolak
pengangkatan Ali sebagai khalifah dihukumi kafir. Karena dengan riwayat
ini, orang kafir yang dimaksud adalah mereka yang menolak pengangkatan
Ali.
•Percaya pada pengangkatan Ali adalah termasuk pembeda antara mukmin dan kafir, berarti termasuk pokok agama yang penting.
•Apakah ahlussunnah yang menolak pengangkatan Ali adalah kafir? Jika kita kembali pada riwayat di atas maka jawabnya "ya".
•Menurut riwayat ini surat Al Ma�arij adalah madaniyah, yaitu turun
setelah hijrah, karena sabda Nabi pada Ali tersebut diucapkan setelah
haji wada�.
•Riwayat ini adalah dari sumber ahlussunnah, jadi
dianggap pendapat ahlussunnah. Seolah Qurtubi dan Ahlussunnah
berpendapat seperti itu.
•Pendapat ahlussunnah yang tidak sesuai
dengan syiah dalam masalah pengangkatan Ali sebagai khalifah seolah
menyelisihi ajaran ahlussunnah sendiri.
Setelah dilihat kembali
dalam tafsir Qurtubi, ternyata kang Jalal sengaja membaca kutipan yang
memperkuat pendapatnya dan tidak membaca keterangan dari tafsir Qurtubi
sebelum dan sesudah riwayat yang dibaca itu, alias dia tidak menerapkan
nasehat yang biasanya diucapkan oleh seorang syi�ah pada setiap sunni
yang ingin menghujat syi�ah dengan nukilan dari literatur syi�ah
sendiri. Yaitu memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan
kepentingannya dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengan
kepentingan.
Pada setiap awal tafsir surat, biasanya Qurtubi
menjelaskan status surat, apakah surat itu makiyah atau madaniyah. Di
awal tafsir surat ma�arij, imam Qurtubi menerangkan bahwa surat Al
Ma�arij adalah makkiyyah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal
ini. Suurotul ma�aarij, makkiyyatun bittifaq. Saya kira kang jalal yang
bisa membaca riwayat di tafsir Qurtubi dengan baik dan menterjemahkan
dengan bahasa yang "menggerakkan" pasti memahami arti perkataan Qurtubi
mengenai waktu turunnya surat ini. Arti kalimat bittifaq adalah dengan
kesepakatan seluruh mufassirin. Memang benar, seluruh mufassirin
ahlussunnah sepakat bahwa surat Al Ma�arij turun di Makkah, sebelum Nabi
hijrah ke Madinah. Atau jika ada yang tidak setuju dengan statement
bahwa seluruh mufassirin ahlussunnah berpendapat demikian, paling tidak
Qurtubi sendiri berpendapat demikian. Tapi merupakan metode Qurtubi
dalam penulisan tafsir, beliau menyebutkan perbedaan pendapat dalam
waktu turun sebuah surat jika ada perbedaan dalam hal itu. Bisa dilihat
dalam tafsir surat Shaff di mana ada perbedaan mengenai waktu turunnya.
Madaniyyatun fi qaulil jami�, fii maa dzakarohul maawardi. Wa qiila
innaha makkiyyatun, dzakarohu Annahhas an ibni Abbas. Sementara dalam
surat Taghabun Qurtubi membeberkan perbedaan pendapat yang ada mengenai
masa turunnya surat ini. Madaniyyatun fi qaulil aktsarin. Wa qala
adhahhaku makkiyyatun wa qala alkalbiyyu hiya makkiyyatu wa
madaniyyatun.. wa an ibni Abbas anna surata taghabun nazalat bimakkah,
illa ayaatun min akhiriha nazalat bil madinah. Ini jika memang ada
perbedaan pendapat mengenai masa turunnya sebuah surat.
Jika
memang kesepakatan ulama adalah surat Al Ma�arij turun di mekkah, lalu
mengapa Qurtubi sendiri menukil riwayat yang dibacakan oleh kang Jalal?
Qurtubi menukilkan riwayat itu untuk sekedar pengetahuan pembaca bahwa
ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi riwayat ini tidak digubris
oleh Qurtubi karena lemah sehingga tidak mempengaruhi kesepakatan ulama
yang menerangkan bahwa surat Al Ma�arij turun di Makkah.
Dari
awal tafsir surat ini amatlah jelas lemahnya pendapat kang Jalal, yang
sengaja melewatkan kalimat ini karena jika dibaca akan mementahkan apa
yang ingin disampaikan pada pemirsa..
Kita tidak mudah untuk
menerima kenyataan bahwa pelaku hal ini adalah kang Jalal, salah satu
"cendikiawan" muslim indonesia yang susah dicari tandingannya karena
memiliki skill mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang enak,
menggerakkan dan ditambah dengan reasoning yang kuat. Akhirnya orang pun
"tergerakkan" ketika membaca tulisannya dan mendengar ceramahnya.
Lalu siapa yang dimaksud dalam surat ini? Siapa yang menantang Allah
untuk mendatangkan siksanya? Qurtubi telah menjelaskannya tapi sengaja
tidak dibaca oleh kang Jalal. orang itu adalah Nadhr bin Harits, yang
mengatakan : Ya Allah jika memang hal ini(ajaran Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad)adalah benar maka turunkanlah hujan batu dari langit atau
siksalah kami dengan siksa yang pedih". Perkataan ini dikisahkan Allah
pada kita di surat Al Anfal ayat 32. Nadhr bin Harits mati dibunuh
setelah perang badar. Imam Bukhari menerangkan bahwa yang mengatakan
adalah Abu Jahal. Dalam sohih Muslim juga dicantumkan riwayat demikian.
Ini semakin memperkuat pendapat Qurtubi, bahwa surat Al Ma�arij turun di
mekkah sebelum hijrah. Sementara sabda Nabi yang difahami syi�ah
sebagai pelantikan Ali sebagai khalifah terucap setelah haji wada�, di
ghadir khum, dalam perjalanan pulang ke Medinah.
Di sisi lain
ada kejanggalan fatal dalam riwayat ini. Riwayat peristiwa ghadir khum
tercantum dalam kitab-kitab hadits ahlussunnah, di antaranya adalah
shahih muslim, Turmuzi, Nasa�i, Ahmad dan Thabrani. Seluruh riwayat itu
mengatakan bahwa Nabi mensabdakan sabdanya di atas saat rombongan haji
Rasulullah singgah di Ghadir Khum sepulang dari haji wada�. Tapi riwayat
yang dibaca oleh kang Jalal di tafsir Qurtubi menerangkan bahwa Nabi
ditanya oleh Harits bin Nu�man Al Fihri di Mekah, yaitu di Abtah .
Sementara itu kita ketahui bersama bahwa setelah haji wada�, Nabi tidak
pernah pergi lagi ke Mekah hingga beliau wafat sekitar tiga bulan
setelah haji wada�. Jadi peristiwa dalam riwayat yang dibaca oleh kang
Jalal adalah fiktif.
Kang Jalal memang aktif menulis buku,
salah satu buku terakhir kang Jalal berjudul Belajar Cerdas, membahas
mengenai otak manusia. Pada pengantar buku kang Jalal menuliskan sebuah
"promosi" bagi SMU Plus Muthahhari Bandung. Perlu anda tahu bahwa kang
Jalal adalah kepala SMU Plus Muthahhari. Kang Jalal sering merasa
terharu ketika mendengar seorang murid SMU Plus Muthahhari mengucapkan
do�a dan diikuti oleh murid-murid lainnya :
Ya Allah
Sehatkan tubuhku
Cerdaskan otakku
Bersihkan hatiku
Indahkan akhlaqku
Saya yakin pembaca sepakat dengan saya bahwa perbuatan yang dilakukan
kang Jalal saat dialog bukanlah akhlaq terpuji. Ironis memang.
Untuk melihat bukti lengkap silahkan download artikel Akhlak Jalaludin Rahmat di menu download situs ini.
0
Home
Ketahuilah!!!
Renungkanlah!!!
01 Jan
17 alasan ulama Islam mengkafirkan kaum Syi’ah
SEJUMLAH tujuh belas doktrin Syi’ah yang selalu mereka sembunyikan dari
kaum muslimin sebagai bagian dari pengamalan doktrin taqiyah
(menyembunyikan Syi’ahnya). Ketujuh belas doktrin ini terdapat dalam
kitab suci Syi’ah:
Dunia dengan seluruh isinya adalah milik
para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang
dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki (Ushulul Kaafi,
hal.259, Al-Kulaini, cet. India).
Jelas Doktrin semacam ini
bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128, “Sesungguhnya
bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia
kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan
para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.
Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama
dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang
bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi
hal. 138).
Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah
yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin
semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah
pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian
aqidahnya.
Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah
dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah
(Ushulul Kaafi, hal. 83).
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib
oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan
neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya,
mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara
rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal.
84).
Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).
Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri
yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui
hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi,
hal. 158).
Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi
dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada
mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui
(Ushulul Kaafi, hal. 193).
Allah itu bersifat bada’ yaitu baru
mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah
telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi,
hal. 40).
Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah),
Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh.
Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat
ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah
telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin
Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).
Para
imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah.
Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah
lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam
Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah
(Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal.
165).
Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).
Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin
Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi,
hal. 109)
Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi
dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat
Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47,
menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba
aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab,
hal. 180).
Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada
Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660
ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).
Menyatakan bahwa Abu Bakar,
Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul
Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah
musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah
sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul
Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).
Menghalalkan
nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin
mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir
Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).
Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi
kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada
temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika
engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III,
hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).
Rasulullah
dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi
sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan
Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua
orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad
Baqir al-Majlisi).
Ketujuhbelas doktrin Syi’ah di atas, apakah
bisa dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah
Saw. dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup
sejak zaman Tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa
Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad,
barangsiapa yang tidak MENGKAFIRKAN aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk
Kafir.
Semua kitab tersebut diatas adalah kitab-kitab induk
atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab
hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa’i, Tirmidzi, Abu
Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya
Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum
Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah
dusta dan harus ditolak tegas !!!.
Sumber: Risalah Mujahidin, edisi 9, th 1 Jumadil Ula 1428 / Juni 2007
Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17123-17-alasan-ulama-islam-mengkafirkan-kaum-syiah.html#ixzz1iDPDVifQ
Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!
0 Comments and 0 Reactions
01 Jan
IJABI berdusta katakan syi’ah haramkan nikah mut’ah
JAKARTA (Arrahmah.com) – Organisasi yang memayungi sekte sesat di
Indonesia Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), melakukan taqiyah
dengan membantah bahwa jamaahnya diperbolehkan untuk tidak salat Jumat
dan nikah mut’ah (kawin kontrak).
“Kami di IJABI nikah mut’ah
diharamkan,” tega Ketua dewan Syura IJABI Jalaludin Rakhmat yang
merupakan gembong syiah di Indonesia saat jumpa pers di Kantor Pusat
IJABI di Jakarta Selatan, Sabtu (31/12).
Lebih dari, itu Jalal
menegaskan, banyak pengurus IJABI yang menjadi khatib salat Jumat di
masjid-masjid besar. Sehingga fakta tersebut dengan jelas membatalkan
anggapan bahwa Syiah dibolehkan tidak melaksanakan salat Jumat.
Soal nikah mut’ah, Jalal menilai pada hakikatnya semua orang melakukan
nikah mut’ah namun dalam konteks yang berbeda. “Kita semuanya nikah
mut’ah, segera setelah akad nikah, taqliq talak itu nikah mut’ah,”
jelasnya.
Karena itu, Jalal meminta masyarakat yang belum
memahami soal Syiah untuk berdialog dan tidak menggunakan cara kekerasan
untuk memaksakan pendapat.
Di negeri Iran hingga kini tidak
pernah dilaksanakan shalat Jum’at dimasjid-masjid kaum syi’ah. Karena
mereka beranggapan sholat jum’at harus dilakukan bersama Imam Mahdi
mereka yang belum muncul, sholat jum’at pernah dilaksanakan ketika
Khomeini dianggap sebagai wilayatul faqih yang mewakilkan urusan umat
syi’ah dimasa keghaiban Imam Mahdi versi Syi’ah.
Entah, apa
yang membuat Jalal tidak menjalankan ajarannya tersebut. Bisa jadi ini
adalah taqiyah (kebohongan dalam ajaran Syi’ah) yang merupakan aqidah
syi’ah yang dilakukan Jalal untuk menyelamatkan diri. Dalam sebuah
riwayat versi syiah mengatas namakan Ahlul bait Ja’far As-Shadiq
mengatakan:
“Taqiyah adalah 9 dari 10 bagian agama.” Ja’far
juga mengatakan: “Tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah.” Begitu
juga riwayat dari Abu Ja’far, yang mengatakan: “Taqiyyah adalah agamaku
dan agama kakek-kakekku.” (Riwayat-riwayat ini tercantum dalam kitab
Al-Kafi, bab. Taqiyyah, jilid. 2, hal. 217).
Ibnu Babawaih
Al-Qummi, salah seorang ulama besar Syi’ah, mengatakan: “kami meyakini
bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti
meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hal. 114).
Ini nampaknya
yang sedang dimainkan Jalaludin rahmat untuk membela sektenya, Ia
bertaqiyyah(berbohong) bahwa mereka tidak pula melaksanakan nikah
mut’ah. Padahal dalam pernyataannya secara implisit, Ia meminta
masyarakat memahami bahwa mut’ah itu dilakukan bukan hanya oleh syi’ah.
Perhatikan ucapannya ini Soal nikah mut’ah, “Kita semuanya nikah mut’ah,
segera setelah akad nikah, taqliq talak itu nikah mut’ah,” jelasnya.
Itulah kedustaan yang sering dilakukan sekte sesat syi’ah, mereka
menolak dikatakan mewajibkan mut’ah, tetapi tak begitu lama lisannya
sendiri yang menegaskan pembolehan nikah tersebut.
Nikah Mut’ah
tidak mungkin ditinggalkan pengikut syi’ah, karena menurut Syi’ah nikah
mut’ah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah yang mampu mengangkat
derajat mereka.
Syi’ah meyakini mut’ah sebagai salah satu dasar
pokok (ushul) agama, dan orang yang mengingkarinya dianggap sebagai
orang yang ingkar terhadap agama.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu
Al-Faqih, 3/366 dan Tafsir Minhaj Ash-Shadiqin, 2/495).
Syi’ah
juga menganggap mut’ah sebagai salah satu keutamaan agama dan dapat
meredam murka Tuhan.(Sumber: Tafsir Minhaj Ash-Shadiqin, karya
Al-Kasyani, 2/493).
Menurut Syi’ah seorang wanita yang dimut’ah akan diampuni dosanya.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366).
Syi’ah menganggap mut’ah sebagai salah satu sebab terbesar dan utama
seseorang masuk ke dalam surga, bahkan dapat mengangkat derajat mereka
hingga mereka mampu menyamai kedudukan para nabi di surga.(Sumber: Kitab
Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366).
Wallahu ‘alam bishshowab.
(Bilal/arrahmah)
Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17124-ijabi-berdusta-katakan-syiah-haramkan-nikah-mutah.html#ixzz1iCvAiH4S
Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!
0 Comments and 0 Reactions
01 Jan
MUI Jatim : Waspadai perkembangan syi`ah
JAKARTA (Arrahmah.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur
(Jatim) meminta masyarakat mewaspadai aliran Syiah agar tak berkembang
di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Menurut Ketua MUI Jawa
Timur KH Abdussomad Bukhori, kelompok Syiah boleh diakui eksistensinya
tapi jangan diberikan fasilitas untuk berkembang.
“Aliran Syiah
jangan berkembang dan merembet ke tempat lain. Indonesia itu isinya
orang Sunni walaupun NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad semuanya sunni. Syiah
itu kelompok kecil harus mengerti-lah,” kata Abdussomad di Kompleks
Mapolda Jatim, Surabaya, Jumat (30/12) seperti dilansir Okezone.
Kendati demikian, dia mengaku tidak sepakat dengan aksi kekerasan yang
terjadi di Pesantren Syiah, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben Kabupaten
Sampang, kemarin. Abdussomad juga berharap tidak ada pihak-pihak yang
memancing di air keruh terkait insiden tersebut.
“Mengembangkan
Syiah di Madura tentunya sangat berat. Kita kekerasan tidak setuju tapi
jangan ada yang mancing-mancing agar terjadi kekerasan itu,” katanya.
MUI sendiri, tegasnya, sudah melakukan beberapa langkah-langkah terkait
kasus di Sampang itu. Meski belum sampai pada tahap fatwa haram terkait
keberadaan Syiah di Indonesia.
Sebab, jika kekuatan Syiah
berkembang setara dengan kekuatan Sunni di Indonesia, dia khawatir
sering terlibat kerusuhan mengingat kedua aliran ini memiliki kekuatan
yang sepadan, mirip dengan kondisi di Irak dan Iran.
“Saya kira Jawa Timur ini adalah kondisi yang sangat pas. Akhirnya kondisinya menjadi kondusif,” katanya.
Tambah KH Abdussomad Bukhori , jika sebuah negara terdapat dua aliran
ini dengan kekuatan yang sama,maka negara tersebut tidak akan tentram.
“Sunni dan Syiah memang tidak bisa ketemu. Rukun Imannya saja berbeda,” jelas Abdussomad.
Dia menjelaskan, ada beberapa perbedaan yang menonjol di Syiah dengan
umat Islam pada umumnya. Azan saja berbeda di Syiah, lantunan Azan
diubah ada tambahan dua bait.
“Di Syiah salat saja berbeda,
yakni salat Zuhur dan Asar digabung jadi satu. Kemudian salat Maghrib
dan Isya. Perbedaan itulah yang tidak bisa ketemu dengan umat Islam pada
umumnya,” jelasnya.
Dia menambahkan nikah mut’ah (nikah kontrak) diperbolehkan di Syiah.
Abdussomad menjelaskan Syiah terbagi menjadi beberapa sekte. Ada sekte
beraliran ekstrem dan moderat. “Sekte yang lunak ini ajarannya tetap
bertentangan dengan umumnya umat Islam,” tukasnya.
Apa yang
membuat kekhawatiran ulama terhadap syiah jika hidup berdampingan dengan
sunni? Hal tersebut dikarenakan syi’ah mempunyai pandangan yang burk
terhadap ahlu sunnah atau sunni. Pandangan buruk tersebut terkait
keyakinan mereka bahwasanya kaum muslimin atau ahlus sunnah wal jama’ah
adalah kafir dan harus diperangi. Keyakinan tersebut dapat kita lihat
pada kitab-kitab pegangan kaum syiah.
Al-Majlisi, ulama Syi’ah
kenamaan, yang menyusun kitab Biharul Anwar –ensiklopedi hadits Syi’ah
yang terdiri dari 110 jilid–. Pada jilid ke 30, hal. 399, dia
menyatakan:
“Saya katakan: Dalil yang menunjukkan bahwa Abu
Bakar, Umar dan orang yang sejalan dengan mereka adalah kafir, juga
menunjukkan pahala melaknat dan memusuhi mereka, yang menunjukkan bid’ah
mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau
berjilid-jilid buku, apa yang telah kami nukilkan di atas sudah cukup
bagi orang yang diberi petunjuk Allah ke jalan yang lurus.”
Wallahu’alam bishshowab.
(Bilal/arrahmah)
Read more: http://arrahmah.com/read/2011/12/31/17121-mui-jatim-waspadai-perkembangan-syiah.html#ixzz1iCuVPvYR
Dikirim pada 01 Januari 2012 di Ketahuilah!!!
0 Comments and 0 Reactions
31 Des
IJABI berdusta katakan syi’ah haramkan nikah mut’ah
Dikirim pada 31 Desember 2011 di Ketahuilah!!!
0 Comments and 0 Reactions
28 Jul
Akhlak Kang Jalal
Dahulukan Akhlak di atas Fikih! itu kata Kang Jalal dalam bukunya,
tetapi apakah Kang Jalal sudah melakukannya sebelum mengajak orang lain?
Beberapa waktu yang lalu masyarakat berpeluang menyaksikan dialog
Nasional Sunni Syi�ah di layar TV. Menurut informasi yang beredar,
penganut sunni yang akan berdialog adalah Fauzan Anshari, sementara
penganut syi�ah yang akan memaparkan dalil-dalil syar�i kebenaran mazhab
syi�ah adalah Jalaluddin Rahmat. Semua menunggu hari dialog dengan
penuh penantian.
Lagi-lagi dari informasi yang beredar, Fauzan
berniat mengajak kang Jalal untuk bermubahalah, memohon azab Allah yang
disegerakan untuk mengetahui mana yang benar, antara mazhab Fauzan dan
mazhab kang Jalal. Tapi ternyata masyarakat belum dapat menyaksikan
langsung bukti kebenaran masing-masing mazhab, karena jika terjadi
mubahalah, selang beberapa waktu akan terjadi sebuah peristiwa buruk,
atau siksa, atau kematian dengan kecelakaan pada pihak yang mazhabnya
salah, akhirnya masyarakat akan mengerti dengan jelas. Seperti dikutip
oleh majalah Sabili, karena merasa ditipu dan dipermainkan, Fauzan
membatalkan keikutsertaannya dalam dialog, lalu panitia menghubungi
Nabhan Husein yang akhirnya menggantikan Fauzan.
Pada awal sesi
Kang Jalal (biasanya Jalaludin dipanggil dengan panggilan ini)
membacakan riwayat dari kitab tafsir Qurtubi tentang sebab turunnya
surat Al Ma�arij.
Sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan syi�ah,
ketika dihadapkan dengan nukilan dari literatur induk syi�ah yang
menerangkan hakekat mazhabnya, maka mereka segera menasehati lawan
dialognya agar tidak membaca nukilan sepotong-sepotong, hendaknya
membaca kitab seluruhnya supaya faham maksud perkataan itu dengan jelas,
serta jangan percaya pada antek musuh Islam yang menebar fitnah untuk
memecah belah ummat, mari kita lupakan perbedaan sepele yang ada antara
sunni dan syi�ah untuk menghadapi musuh utama kita, yaitu kaum yahudi.
Padahal nukilan tadi jelas jelas dari kitab induk yang menjadi pedoman
syi�ah. Akhirnya sunni yang kebetulan polos percaya saja dengan jawaban
kawan syi�ah tadi. Padahal belum tentu kawan syi�ah tadi sudah pernah
melihat langsung nukilan itu di kitab mereka. Karena kitab-kitab
literatur induk syi�ah yang memuat salah satu "pusaka" yang harus
diikuti oleh ummat Islam, yaitu ajaran ahlulbait, seperti kitab al kafi,
biharul anwar, al istibshar dan tahzibul ahkam tidak bisa ditemukan
dengan mudah, tidak seperti kitab-kitab hadits ahlussunah yang mudah
didapat. Jika memang kita harus mengikuti ahlulbait, mengapa kitab-kitab
yang memuat riwayat-riwayat ahlubait tidak diterjemahkan supaya
diketahui kaum muslimin secara luas?
Kang Jalal menukil dari
tafsir Qurtubi yang merupakan salah satu literatur induk tafsir
ahlussunnah wal jamaah, bukannya dari kitab syi�ah. Pemirsa pasti akan
menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat ahlussunah, karena berasal
dari salah satu kitab literatur tafsir ahlussunnah.
Menurut
riwayat yang dibaca oleh kang Jalal , bahwa sebab turunnya surat Al
Ma�arij yang ayat pertamanya berbunyi : sa�ala saa�ilun bi azaabin
waaqi�, artinya seorang telah meminta azab yang pasti akan menimpanya,
orang itu adalah Nu�man bin Harits Al Fihri, ketika mendengar bahwa Nabi
bersabda pada Ali bahwa " barang siapa aku(Nabi) menjadi walinya, maka
Ali harus menjadi walinya" langsung mengndarai ontanya. Ketika sampai di
Abtah (sebuah tempat di kota mekah), dia turun dan menambatkan ontanya,
lalu menghadap Nabi dan berkata : wahai Muhammad, kamu memerintahkan
kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk bersaksi tiada tuhan selain
Allah dan kamu adalah Rasulullah maka kami terima perintah itu, dan
kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah sholat lima
waktu dan ini juga telah kami terima. Dan kamu memerintahkan kami untuk
melaksanakan perintah Allah untuk berzakat dan kami pun tidak
menolaknya, juga dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah
Allah untuk berpuasa pada bulan ramadhan setiap tahun, kami terima itu.
Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk
berhaji dan kami terima, tapi kamu masih kurang dengan semua ini lalu
kamu lebihkan anak pamanmu di atas kami? Apakah hal ini dari Allah atau
dari dirimu sendiri? Lalu Nabi menjawab : demi Allah yang tiada tuhan
selain dia, perintah ini tidak datang kecuali dari Allah. Lalu Harits
berpaling sambil mengucapkan doa: "ya Allah jika memang ucapan Muhammad
adalah benar, turunkanlah hujan batu dari langit, atau datangkanlah
siksa yang pedih kepadaku". Demi Allah, dia tidak sampe ke ontanya
sampai dia dilempar oleh Allah dengan batu mengenai kepala dan menembus
duburnya dan dia pun mati. Lalu turunlah ayat pertama surat Al Ma�arij.
Dalam riwayat ini terdapat beberapa point penting yang akan ditangkap oleh permirsa yang menyaksikan siaran dialog:
•Yang dimaksud dengan orang kafir yang meminta azab adalah mereka yang kafir dengan pengangkatan Ali.
•Seolah pengangkatan Ali adalah resmi dari Allah, yang mana menolak
pengangkatan Ali sebagai khalifah dihukumi kafir. Karena dengan riwayat
ini, orang kafir yang dimaksud adalah mereka yang menolak pengangkatan
Ali.
•Percaya pada pengangkatan Ali adalah termasuk pembeda antara mukmin dan kafir, berarti termasuk pokok agama yang penting.
•Apakah ahlussunnah yang menolak pengangkatan Ali adalah kafir? Jika kita kembali pada riwayat di atas maka jawabnya "ya".
•Menurut riwayat ini surat Al Ma�arij adalah madaniyah, yaitu turun
setelah hijrah, karena sabda Nabi pada Ali tersebut diucapkan setelah
haji wada�.
•Riwayat ini adalah dari sumber ahlussunnah, jadi
dianggap pendapat ahlussunnah. Seolah Qurtubi dan Ahlussunnah
berpendapat seperti itu.
•Pendapat ahlussunnah yang tidak sesuai
dengan syiah dalam masalah pengangkatan Ali sebagai khalifah seolah
menyelisihi ajaran ahlussunnah sendiri.
Setelah dilihat kembali
dalam tafsir Qurtubi, ternyata kang Jalal sengaja membaca kutipan yang
memperkuat pendapatnya dan tidak membaca keterangan dari tafsir Qurtubi
sebelum dan sesudah riwayat yang dibaca itu, alias dia tidak menerapkan
nasehat yang biasanya diucapkan oleh seorang syi�ah pada setiap sunni
yang ingin menghujat syi�ah dengan nukilan dari literatur syi�ah
sendiri. Yaitu memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan
kepentingannya dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengan
kepentingan.
Pada setiap awal tafsir surat, biasanya Qurtubi
menjelaskan status surat, apakah surat itu makiyah atau madaniyah. Di
awal tafsir surat ma�arij, imam Qurtubi menerangkan bahwa surat Al
Ma�arij adalah makkiyyah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal
ini. Suurotul ma�aarij, makkiyyatun bittifaq. Saya kira kang jalal yang
bisa membaca riwayat di tafsir Qurtubi dengan baik dan menterjemahkan
dengan bahasa yang "menggerakkan" pasti memahami arti perkataan Qurtubi
mengenai waktu turunnya surat ini. Arti kalimat bittifaq adalah dengan
kesepakatan seluruh mufassirin. Memang benar, seluruh mufassirin
ahlussunnah sepakat bahwa surat Al Ma�arij turun di Makkah, sebelum Nabi
hijrah ke Madinah. Atau jika ada yang tidak setuju dengan statement
bahwa seluruh mufassirin ahlussunnah berpendapat demikian, paling tidak
Qurtubi sendiri berpendapat demikian. Tapi merupakan metode Qurtubi
dalam penulisan tafsir, beliau menyebutkan perbedaan pendapat dalam
waktu turun sebuah surat jika ada perbedaan dalam hal itu. Bisa dilihat
dalam tafsir surat Shaff di mana ada perbedaan mengenai waktu turunnya.
Madaniyyatun fi qaulil jami�, fii maa dzakarohul maawardi. Wa qiila
innaha makkiyyatun, dzakarohu Annahhas an ibni Abbas. Sementara dalam
surat Taghabun Qurtubi membeberkan perbedaan pendapat yang ada mengenai
masa turunnya surat ini. Madaniyyatun fi qaulil aktsarin. Wa qala
adhahhaku makkiyyatun wa qala alkalbiyyu hiya makkiyyatu wa
madaniyyatun.. wa an ibni Abbas anna surata taghabun nazalat bimakkah,
illa ayaatun min akhiriha nazalat bil madinah. Ini jika memang ada
perbedaan pendapat mengenai masa turunnya sebuah surat.
Jika
memang kesepakatan ulama adalah surat Al Ma�arij turun di mekkah, lalu
mengapa Qurtubi sendiri menukil riwayat yang dibacakan oleh kang Jalal?
Qurtubi menukilkan riwayat itu untuk sekedar pengetahuan pembaca bahwa
ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi riwayat ini tidak digubris
oleh Qurtubi karena lemah sehingga tidak mempengaruhi kesepakatan ulama
yang menerangkan bahwa surat Al Ma�arij turun di Makkah.
Dari
awal tafsir surat ini amatlah jelas lemahnya pendapat kang Jalal, yang
sengaja melewatkan kalimat ini karena jika dibaca akan mementahkan apa
yang ingin disampaikan pada pemirsa..
Kita tidak mudah untuk
menerima kenyataan bahwa pelaku hal ini adalah kang Jalal, salah satu
"cendikiawan" muslim indonesia yang susah dicari tandingannya karena
memiliki skill mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang enak,
menggerakkan dan ditambah dengan reasoning yang kuat. Akhirnya orang pun
"tergerakkan" ketika membaca tulisannya dan mendengar ceramahnya.
Lalu siapa yang dimaksud dalam surat ini? Siapa yang menantang Allah
untuk mendatangkan siksanya? Qurtubi telah menjelaskannya tapi sengaja
tidak dibaca oleh kang Jalal. orang itu adalah Nadhr bin Harits, yang
mengatakan : Ya Allah jika memang hal ini(ajaran Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad)adalah benar maka turunkanlah hujan batu dari langit atau
siksalah kami dengan siksa yang pedih". Perkataan ini dikisahkan Allah
pada kita di surat Al Anfal ayat 32. Nadhr bin Harits mati dibunuh
setelah perang badar. Imam Bukhari menerangkan bahwa yang mengatakan
adalah Abu Jahal. Dalam sohih Muslim juga dicantumkan riwayat demikian.
Ini semakin memperkuat pendapat Qurtubi, bahwa surat Al Ma�arij turun di
mekkah sebelum hijrah. Sementara sabda Nabi yang difahami syi�ah
sebagai pelantikan Ali sebagai khalifah terucap setelah haji wada�, di
ghadir khum, dalam perjalanan pulang ke Medinah.
Di sisi lain
ada kejanggalan fatal dalam riwayat ini. Riwayat peristiwa ghadir khum
tercantum dalam kitab-kitab hadits ahlussunnah, di antaranya adalah
shahih muslim, Turmuzi, Nasa�i, Ahmad dan Thabrani. Seluruh riwayat itu
mengatakan bahwa Nabi mensabdakan sabdanya di atas saat rombongan haji
Rasulullah singgah di Ghadir Khum sepulang dari haji wada�. Tapi riwayat
yang dibaca oleh kang Jalal di tafsir Qurtubi menerangkan bahwa Nabi
ditanya oleh Harits bin Nu�man Al Fihri di Mekah, yaitu di Abtah .
Sementara itu kita ketahui bersama bahwa setelah haji wada�, Nabi tidak
pernah pergi lagi ke Mekah hingga beliau wafat sekitar tiga bulan
setelah haji wada�. Jadi peristiwa dalam riwayat yang dibaca oleh kang
Jalal adalah fiktif.
Kang Jalal memang aktif menulis buku,
salah satu buku terakhir kang Jalal berjudul Belajar Cerdas, membahas
mengenai otak manusia. Pada pengantar buku kang Jalal menuliskan sebuah
"promosi" bagi SMU Plus Muthahhari Bandung. Perlu anda tahu bahwa kang
Jalal adalah kepala SMU Plus Muthahhari. Kang Jalal sering merasa
terharu ketika mendengar seorang murid SMU Plus Muthahhari mengucapkan
do�a dan diikuti oleh murid-murid lainnya :
Ya Allah
Sehatkan tubuhku
Cerdaskan otakku
Bersihkan hatiku
Indahkan akhlaqku
Saya yakin pembaca sepakat dengan saya bahwa perbuatan yang dilakukan
kang Jalal saat dialog bukanlah akhlaq terpuji. Ironis memang
No comments :
Post a Comment